Seruan Sambut Bulan Suci Ramadhan dari Papua Barat dengan Kesiapan Hati dan Kebersamaan


MANOKWARI
— Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., mengajak umat Islam di menyambut Ramadhan secara utuh, dengan kesiapan hati, kedewasaan spiritual, kepedulian sosial, serta komitmen kebersamaan dalam bingkai ukhuwah dan kemanusiaan. Dia pun mengajak untuk semakin menghidupkan hari hari bulan suci ini dengan Al Qur’an.


“Al-Qur’an adalah pedoman utama kehidupan kita sebagai manusia. Mari menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk membangun interaksi yang lebih mendalam dengan Al-Qur’an,” katanya, dalam acara Tarhib Ramadhan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Ahad, 20 Sya’ban 1447 (8/2/2025).


Nanang melanjutkan, interaksi terhadap Al Qur’an tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi dilanjutkan dengan tadabbur dan upaya memahami makna serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia menyampaikan bahwa Ramadhan adalah waktu strategis untuk memperkuat relasi intelektual dan spiritual dengan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk hidup.


Tarhib Ramadhan, jelasnya, adalah sebagai proses persiapan komprehensif yang mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual, sekaligus relevan dengan konteks masyarakat Papua Barat.


Nanang menjelaskan hakikat Tarhib Ramadhan. Ia menegaskan bahwa istilah Tarhib memiliki akar makna yang berkaitan dengan kelapangan dan keluasan. Menurutnya, menyambut Ramadhan tidak cukup dipahami sebagai persiapan fisik semata, melainkan menuntut kesiapan batin yang ditandai dengan kelapangan hati dan rasa gembira. Ia menyampaikan bahwa


“Tarhib Ramadhan pada dasarnya adalah upaya melapangkan dada, membersihkan hati, dan menyiapkan jiwa agar ibadah dapat dijalani dengan ringan dan penuh kesadaran,” katanya.


Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan, terutama dengan cara saling memaafkan. Menurutnya, beban batin akibat konflik atau dendam yang belum terselesaikan dapat menghambat kekhusyukan ibadah.


Nanang memaknai Ramadhan sebagai momentum rekonsiliasi personal dan sosial, agar setiap muslim memasuki bulan suci dengan kondisi psikologis yang lebih tenang dan utuh.


Ia juga menguraikan konsep Ramadhan sebagai madrasah transformasi. Ia menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan sarana tarbiyah yang dirancang untuk membentuk dan mengubah karakter manusia. Perubahan tersebut diharapkan mencakup pergeseran perilaku dari kebiasaan yang kurang baik menuju sikap yang lebih bertakwa.


“Ramadhan adalah madrasah ruhani yang seharusnya melahirkan perubahan nyata dalam akhlak dan perilaku, alih alih sekadar rutinitas ibadah tahunan,” katanya.


Dalam kerangka pendidikan spiritual tersebut, Ramadhan mengajarkan disiplin melalui rangkaian ibadah yang terstruktur, seperti puasa, shalat tarawih, dan tilawah Al-Qur’an. Disiplin ini, menurutnya, berfungsi membentuk kontrol diri, konsistensi, serta kesadaran akan tanggung jawab moral sebagai seorang muslim, baik dalam ranah personal maupun sosial.



Nanang pula menyoroti pentingnya penguatan ukhuwah Islamiyah di tanah Papua, khususnya di Manokwari. Dr. Nanang menilai bahwa konteks sosial Papua Barat yang plural menuntut kehadiran umat Islam yang mampu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia menekankan perlunya menjaga harmoni dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.


“Dalam konteks sosial seperti di Manokwari yang majemuk, dakwah bil-hal harus menjadi jembatan interaksi yang membangun, yakni menyampaikan nilai-nilai Islam melalui keteladanan akhlak, sikap santun, dan kontribusi positif di tengah masyarakat, terutama selama bulan Ramadhan,” imbuhnya.


Aspek lain yang mendapat perhatian dalam ceramah tersebut adalah optimalisasi zakat, infaq, dan sedekah. Nanang mendorong jamaah untuk meningkatkan kepedulian sosial dan kedermawanan, terutama melalui lembaga amil zakat resmi seperti Baitul Maal Hidayatullah.


Ia menjelaskan bahwa pengelolaan ZIS yang terorganisasi dengan baik dapat memastikan dana umat benar-benar berdampak pada pemberdayaan masyarakat, termasuk penguatan kemandirian ekonomi dan dukungan pendidikan bagi santri di wilayah pelosok.[]


Reporter: Miftahuddin

Editor: Yacong B. Halike

Sumber : Hidayatullah.or.id