Riya', Pencuri Pahala dalam Sunyi


Ramadan
adalah bulan di mana setiap detik bernilai pahala, dan setiap sujud diharapkan menjadi penggugur dosa. Namun, di balik semarak ibadah tarawih, tilawah, dan sedekah, terdapat sebuah "penyakit halus" yang siap menerkam: Riya'.


Hati-hati dengan penyakit hati ini. Jangan biarkan dahaga dan lapar kita seharian penuh menjadi sia-sia hanya karena keinginan sesaat untuk dipuji manusia. Sebagaimana pesan bijak mengatakan: "Cukuplah Allah yang menjadi saksi perjuanganmu. Beribadahlah dalam sunyi, maka Allah akan mengangkat derajatmu di keramaian."


Apa Itu Riya'?

Secara bahasa, riya' berasal dari kata Ar-Ru’ya yang berarti melihat. Dalam istilah syariat, riya' adalah melakukan ibadah dengan tujuan agar dilihat oleh manusia sehingga pelakunya mendapatkan pujian, kedudukan, atau keuntungan duniawi lainnya.


Riya' sering disebut sebagai Syirik Khafi (syirik yang tersembunyi). Ia sangat halus, bahkan lebih halus dari langkah kaki semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam.


Ancaman bagi Pelaku Riya'

Allah SWT dan Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya riya', terutama dalam hal ibadah yang seharusnya bersifat murni antara hamba dan Sang Khaliq.


1. Ancaman Neraka Wail

Dalam Surah Al-Ma’un, Allah SWT berfirman:

  "Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya'." (QS. Al-Ma’un: 4-6)


Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah fisik sehebat apa pun (seperti shalat) tidak akan bernilai di sisi Allah jika disertai dengan niat pamer.


2. Syirik Kecil yang Paling Ditakuti

Rasulullah SAW sangat mengkhawatirkan umatnya terjebak dalam riya'. Beliau bersabda:

  "Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya'." (HR. Ahmad)


Mengapa Riya' Sangat Berbahaya di Bulan Ramadan?

Ramadan adalah musim ketaatan. Namun, ketaatan yang terekspos tanpa manajemen hati yang kuat bisa menjadi bumerang. Berikut adalah alasan mengapa kita harus waspada:


Menghapus Seluruh Pahala: Berbeda dengan dosa kecil biasa, riya' pada suatu amal akan membatalkan pahala amal tersebut secara total. Bayangkan Anda berpuasa 14 jam, namun pahalanya nol karena Anda sibuk mengeluh di media sosial agar orang tahu Anda sedang lemas karena ibadah.


Menipu Diri Sendiri: Pelaku riya' merasa dirinya sudah beramal shalih dan merasa aman, padahal di buku catatan amal, bagian tersebut kosong atau justru bernilai dosa.


Hukuman di Akhirat: Orang pertama yang dilemparkan ke neraka bukanlah preman atau pemabuk, melainkan seorang alim, seorang dermawan, dan seorang syahid yang melakukan amalnya hanya demi sebutan "hebat" dari manusia.


Riya' dalam Keseharian Ramadan

Terkadang kita tidak sadar telah terjangkit riya'. Berikut adalah beberapa skenario kontemporer yang perlu Kita waspadai:


Sedekah "Lensa Kamera": Memberi makan orang miskin atau membagikan takjil, namun fokus utamanya adalah memastikan sudut pengambilan gambar bagus untuk diunggah di Instagram atau TikTok agar dicitrakan sebagai sosok dermawan.


 Update Status Ibadah: Membuat status seperti, "MasyaAllah, tarawih malam ini syahdu sekali, tidak terasa sudah 23 rakaat," atau "Alhamdulillah, menuju khatam ke-3 hari ini." Jika tujuan di balik status ini adalah untuk menunjukkan "level" ibadah, maka riya telah masuk.


 Menceritakan Kelelahan Puasa: Sengaja memasang wajah pucat atau sering menghela napas panjang di depan rekan kerja agar mereka bertanya, "Lagi puasa ya? Hebat tetap semangat kerja," padahal di rumah ia segar bugar.


Strategi Melawan Riya', Beribadah dalam Sunyi

Melawan riya' bukan berarti berhenti beribadah secara berjamaah, melainkan membenahi niat. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:


1. Miliki "Amalan Rahasia"

Setiap Muslim harus memiliki minimal satu amal ibadah yang tidak diketahui oleh siapapun, termasuk pasangan atau orang tua. Bisa berupa shalat tahajud di tengah malam yang gelap, atau sedekah rutin lewat transfer tanpa nama.


2. Sadari Bahwa Pujian Manusia Tidak Memberi Manfaat

Pujian manusia tidak akan menambah timbangan pahala Anda di mizan, dan hinaan manusia tidak akan mengurangi derajat Anda jika Allah ridha. Manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak bisa memberi surga.


3. Berdoa Memohon Ketulusan

Rasulullah SAW mengajarkan do'a untuk berlindung dari syirik yang kita sadari maupun tidak:

  "Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astaghfiruka lima laa a'lam."


  (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.)

 

4. Jangan Meninggalkan Ibadah karena Takut Riya'

Setan memiliki dua pintu: mengajak kita riya', atau membuat kita berhenti beramal karena takut dianggap riya'. Tetaplah beramal, dan lawanlah perasaan riya' tersebut di dalam hati.


Ramadan adalah momentum untuk memanen pahala, bukan memanen pujian. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Tanpanya, amal kita hanyalah jasad yang mati. Ingatlah, Allah tidak melihat seberapa mahal paket buka puasa yang kita bagikan, atau seberapa banyak "likes" di postingan tadarus kita. Allah melihat apa yang ada di dalam hati.


Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momen "detoksifikasi hati". Biarlah lelahmu, lapar mu, dan sujudmu menjadi rahasia indah antara kamu dan Penciptamu. Karena pada akhirnya, hanya ridha Allah SWT yang mampu menolong kita di hari kiamat kelak. Wallahu a'lam bish-showab.


Penulis : Fadhel Aja (Aktivis Pelita Pabar)