Rakerwil Papua Barat, Sekjend Nanang Noerpatria Dorong Mantapkan Kontribusi bagi Bangsa


MANOKWARI
  –– Hidayatullah saat ini telah memasuki fase 50 tahun kedua perjalanan organisasi. Fase ini, kata Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., merupakan periode strategis untuk memantapkan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa, setelah melewati fase perintisan dan penguatan dasar.


“Hidayatullah sekarang berada pada fase peluang. Lima puluh tahun kedua ini adalah masa untuk menunjukkan kontribusi yang lebih terukur, lebih berdampak, dan lebih dirasakan oleh umat,” ujar Nanang.


Nanang menyampaikan itu saat membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat Tahun 2026 yang digelar di Aula Amin Bahrun, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).


Nanang menegaskan bahwa tema besar Rapat Kerja Hidayatullah periode ini, yakni Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh, adalah kerangka kerja yang harus diterjemahkan ke dalam program konkret di tingkat wilayah. Menurutnya, forum wilayah ini mesti menjadi medium yang menyatukan visi, memperkuat fondasi nilai, sekaligus mempercepat adaptasi organisasi.


“Forum ini ruang strategis untuk meneguhkan arah gerakan organisasi di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan global yang terus berlangsung,” katanya.


Nanang kemudian menguraikan pentingnya membaca komposisi usia kepemimpinan sebagai modal sosial organisasi. Ia menyebutkan bahwa rata-rata usia pengurus DPP berada di kisaran 44 tahun, sementara pengurus DPW secara nasional berada di kisaran usia 35 tahun. Rentang usia tersebut kerap disebut sebagai golden age atau usia emas kepemimpinan karena berada pada puncak produktivitas, kematangan berpikir, dan keberanian mengambil keputusan.


“Ini usia emas dalam organisasi. Karena itu, pengurus wilayah harus agile, lincah membaca perubahan, dan cepat mengeksekusi peluang,” tegasnya.


Dalam konteks kemandirian, Nanang menekankan bahwa makna mandiri tidak boleh dipersempit hanya pada aspek keuangan. Kemandirian, menurutnya, mencakup kemampuan organisasi mengelola sumber daya manusia, aset, data, serta potensi ekonomi lokal secara terintegrasi dan berkelanjutan.


Ia mendorong DPW Hidayatullah Papua Barat untuk lebih jeli membaca potensi wilayah, terutama di sektor ekonomi riil. Papua Barat dikenal memiliki sumber daya alam yang kuat, khususnya di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Papua Barat, sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.


“Wilayah harus pandai membaca peluang. Pertanian, peternakan, dan ekonomi berbasis komunitas adalah pintu masuk kemandirian yang nyata,” kata Nanang.


Pada kesempatan itu, Nanang mengapresiasi program unggulan DPW Hidayatullah Papua Barat bertajuk Petani Milenial. Program ini dinilai sejalan dengan pendekatan pertanian terpadu atau integrated farming yang saat ini juga didorong oleh berbagai lembaga, termasuk Bank Indonesia, dalam rangka pengendalian inflasi pangan dan penguatan ekonomi daerah.


“Program Petani Milenial ini strategis. Pertanian terpadu bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kemandirian pangan dan ekonomi umat. Ini bahkan punya potensi untuk bersinergi dengan Bank Indonesia di wilayah,” ujarnya.


Nanang juga memberikan apresiasi khusus atas langkah DPW Papua Barat yang langsung mengimplementasikan sistem pendataan organisasi berbasis web, yakni Sistem Informasi Terpadu Hidayatullah atau SISTAHID. Sistem ini dihadirkan untuk mengelola data anggota, pengurus, dan komunitas Hidayatullah secara terpusat dan terverifikasi.


Menurut Nanang, penguatan data merupakan fondasi penting dalam transformasi organisasi modern. Tanpa data yang rapi dan tepercaya, perencanaan program, pengelolaan sumber daya, dan pengambilan kebijakan akan kehilangan pijakan yang kuat.


“SISTAHID ini adalah fondasi penting. Data kader harus solid, terpusat, dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari data yang kuat, lahir kebijakan yang tepat,” tegasnya.


Menutup arahannya, Nanang menyampaikan harapan agar Rakerwil Papua Barat menjadi titik tolak penguatan jati diri, percepatan transformasi, dan peningkatan daya pengaruh organisasi di kawasan timur Indonesia.


“Semoga DPW Hidayatullah Papua Barat terus berkembang, semakin mandiri, dan semakin berpengaruh dalam melayani umat dan membangun bangsa,” pungkasnya.[]


Reporter: Miftahuddin

Sumber : Hidayatullah.or.id