MANOKWARI — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, mengajak umat Islam untuk meninjau ulang standar kemajuan sebuah peradaban yang selama ini kerap disalahpahami, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robotika.
Ajakan tersebut disampaikan Nanang dalam kegiatan Tausiyah Subuh di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Syaban 1447 (10/2/2026).
Nanang Noerpatria mengemukakan bahwa wacana tentang kemajuan peradaban sering kali direduksi menjadi ukuran-ukuran material dan teknologis. Ia menilai bahwa kemajuan teknologi yang hari ini berkembang sangat cepat mulai dari AI yang mampu mengambil keputusan kompleks hingga robotika yang menggantikan banyak peran manusia, perlu disikapi dengan kerangka nilai yang lebih mendasar agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami makna peradaban.
Ia mengulas pandangan akademis yang selama ini menempatkan puncak kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah, terutama karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa tersebut. Menurutnya, narasi tersebut memang memiliki dasar historis, namun perlu dikaji secara lebih kritis agar tidak melahirkan pemahaman sempit tentang peradaban.
Dr. Nanang menyampaikan bahwa apabila kemajuan peradaban hanya diukur dari penguasaan teknologi, maka ukuran tersebut akan mengalami pergeseran makna di era modern. Saat ini, kata dia, penguasaan teknologi tertinggi justru berada di tangan negara-negara yang tidak berlandaskan nilai-nilai Islam bahkan cenderung tidak berperikemanusiaan.
“Saat ini teknologi tertinggi dipegang oleh negara-negara seperti Israel. Begitu juga dengan China yang mampu menciptakan ‘matahari buatan’. Jika iptek adalah satu-satunya tolok ukur, apakah lantas mereka disebut pemilik peradaban tertinggi,” kata Nanang.
Pertanyaan itu diutarakan Nanang untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi termasuk kecerdasan buatan, otomasi, dan sistem robotik, tidak serta-merta mencerminkan tingginya kualitas peradaban. Nanang menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara peradaban ditentukan oleh nilai yang membimbing penggunaan alat tersebut.
“Tanpa fondasi nilai, teknologi justru berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan kerusakan moral,” tegas Nanang.
Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa peradaban terbesar dalam sejarah manusia justru lahir pada masa Rasulullah SAW. Menurutnya, meskipun pada masa tersebut tidak terdapat kemajuan teknologi sebagaimana hari ini, peradaban yang dibangun mampu melahirkan manusia-manusia unggul dengan kualitas kepemimpinan dan akhlak yang tinggi.
Ia menjelaskan bahwa peradaban pada masa Rasulullah SAW memiliki beberapa karakter utama. Pertama, lahirnya pemimpin-pemimpin dengan visi yang jelas dan semangat perjuangan yang kuat untuk memakmurkan bumi. Kedua, seluruh capaian berpijak pada landasan iman dan tauhid yang kokoh, bukan pada kecanggihan alat atau sistem.
Karakter utama Ketiga, lanjut Nanang, adalah kualitas manusia menjadi pusat peradaban, di mana iman membentuk individu yang mampu mengelola kehidupan secara adil, bermakna, dan sesuai dengan syariat.
Nanang juga menekankan kembali tujuan penciptaan manusia sebagaimana diajarkan dalam Islam, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif ini, seluruh aktivitas kehidupan—baik yang bersifat spiritual maupun sosial—dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dijalankan sesuai tuntunan-Nya.
Ia kemudian menguraikan dua kategori ibadah. Pertama adalah ibadah mahdhah, yaitu ibadah ritual yang ketentuannya telah ditetapkan secara baku, seperti shalat dan puasa. Kedua adalah ibadah ghairu mahdhah, yaitu aktivitas duniawi dan sosial yang bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai syariat.
“Jadi, di waktu yang sama, Islam tidak menegasikan realitas kebutuhan zaman. Dalam konteks kemajuan teknologi, penguasaan AI, sains, dan teknologi pun dapat bernilai ibadah apabila diarahkan untuk kemaslahatan umat,” terangnya menegaskan.
Menyapa para santri pada kesempatan tersebut, Nanang Noerpatria berharap para santri di Papua Barat dan generasi muda Islam pada umumnya tidak terjebak pada glorifikasi teknologi semata.
Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan akhlak, karena hanya dengan fondasi tersebut teknologi dapat diarahkan untuk membangun peradaban Islam yang bermartabat di tengah arus disrupsi digital global.
Reporter: Miftahuddin
Editor: Yacong B. Halike
Sumber : Hidayatullah.or.id

