Mencetak Generasi Qur’ani dari Ujung Timur: Ikhtiar Program Takhassus Hidayatullah Papua Barat



Oleh: Miftahuddin

Papua Barat sedang bersiap menyambut masa depan yang lebih cerah, bukan hanya dari sisi pembangunan fisik, melainkan dari kedalaman spiritualitas generasinya. Melalui Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat kolaborasi dengan Pendidikan Ulama' Zu'ama (PUZ) Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan Kalimantan Timur, sebuah langkah strategis telah dipancangkan sejak tahun 2024: Program Takhassus bagi santri tingkat Madrasah Aliyah.


Bertempat di Pesantren Hidayatullah Manokwari, program ini bukan sekadar rutinitas belajar biasa. Ini adalah sebuah kawah candradimuka yang dirancang khusus untuk melahirkan profil pemuda yang kokoh secara intelektual dan spiritual.


Fokus pada Bahasa Arab dan Al-Qur’an

Dua pilar utama yang menjadi jantung program ini adalah penguasaan Bahasa Arab aktif dan Hafalan Al-Qur’an (Tahfidz). Bahasa Arab bukan hanya dipelajari sebagai disiplin ilmu, melainkan sebagai alat komunikasi aktif untuk mendalami khazanah keislaman langsung dari sumber aslinya.



Di sisi lain, kedisiplinan menjadi kunci dalam menghafal kalam Ilahi. Dengan kewajiban setoran hafalan minimal 1/2 halaman setiap hari, para santri diproyeksikan mampu menyelesaikan minimal 15 juz dalam kurun waktu 3 tahun. Target ini adalah angka yang realistis namun menantang, menuntut konsistensi tinggi dari para santri di tengah gempuran distraksi zaman.


Sentuhan Guru dari Seberang Pulau

Keseriusan DPW Hidayatullah Papua Barat dalam mengawal kualitas program ini terlihat dari pemilihan pengasuhnya. Saat ini, program Takhassus diampu langsung oleh Ustadz Mukhlis, SH. dan Ustadz Muhammad Irfan, SH. Beliau merupakan dua orang penghafal Al-Qur’an yang didatangkan khusus dari program Ulama Zu’ama (PUZ) Sekolah Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur. Kehadiran sosok yang telah melalui sistem kaderisasi ulama yang ketat ini diharapkan mampu mentransfer tidak hanya ilmu, tetapi juga ruh perjuangan dan adab seorang pembawa Al-Qur’an.



Harapan bagi Papua Barat

Melihat foto-foto para santri yang duduk melingkar dengan khusyuk di selasar masjid, ada rasa optimisme yang membuncah. Mereka adalah aset berharga. Kita tidak hanya sedang mencetak penghafal teks, tetapi sedang membentuk karakter pemimpin masa depan yang memiliki pandangan hidup islami (Islamic Worldview).


Harapan kita besar: semoga dari bumi Manokwari, lahir generasi-generasi penghafal Al-Qur’an yang akan menerangi Papua Barat dengan dakwah yang santun dan ilmu yang mumpuni. Program Takhassus ini adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat esok hari, namun keberkahannya akan dirasakan oleh anak cucu kita di masa depan.