Install "CCTV Ilahi" di Hati, Manifestasi Ihsan dalam Ritual Puasa

 

Install "CCTV Ilahi" di Hati, Manifestasi Ihsan dalam Ritual Puasa

Ramadan sering kali disebut sebagai madrasah (sekolah) karakter. Pelajaran utamanya bukanlah tentang ketahanan fisik melawan lapar, melainkan tentang kejujuran radikal. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan pencitraan, puasa hadir sebagai satu-satunya ruang di mana manusia dipaksa untuk jujur sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Inilah esensi dari Ihsan, sebuah kesadaran bahwa tidak ada satu pun sudut di semesta ini yang luput dari penglihatan Allah.


Rahasia di Balik Pintu yang Terkunci

Bayangkan seseorang yang sedang berpuasa di tengah terik matahari yang menyengat. Ia masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu, dan di hadapannya tersedia segelas air dingin yang menyegarkan. Tidak ada kamera pengawas, tidak ada orang tua, tidak ada teman. Secara logika manusia, ia bisa meminumnya tanpa ada yang tahu. Namun, ia tidak melakukannya.


Mengapa? Karena di dalam hatinya telah tertanam kuat sebuah keyakinan:

"Dia (Allah) mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Ghafir: 19)


Puasa adalah latihan harian untuk merasakan kehadiran Allah (Muraqabah). Jika dalam perkara kecil seperti seteguk air saja kita merasa malu kepada-Nya, seharusnya kesadaran itu menjadi filter bagi kita dalam menghadapi dosa-dosa besar di luar bulan Ramadan.


Ihsan: Tingkatan Tertinggi Keimanan

Dalam sebuah hadits yang sangat fundamental, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa agama ini terdiri dari tiga tingkatan: Islam (lahiriyah), Iman (keyakinan hati), dan yang paling tinggi adalah Ihsan.


 Rasulullah SAW bersabda: "Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)


Dalam konteks Ramadan, Ihsan mengubah status "menahan lapar" menjadi "ibadah yang syahdu". Seseorang yang memiliki sifat Ihsan tidak lagi merasa terbebani oleh aturan, karena ia merasa sedang berinteraksi langsung dengan Dzat yang ia cintai. Ia merasa selalu diawasi, namun pengawasan itu bukanlah pengawasan yang mengancam, melainkan pengawasan yang penuh kasih sayang (Rahmat).


Fenomena "Ramadan di Media Sosial" vs Realitas Batin

Di era digital, kita sering terjebak pada aspek lahiriyah. Kita mengunggah foto saat berbuka, saat tarawih, atau saat bersedekah. Namun, tantangan Ihsan yang sesungguhnya adalah saat gawai (smartphone) berada di tangan kita dalam kesunyian malam.


Apakah kita masih merasa diawasi Allah saat jempol kita hendak mengetik komentar jahat? Apakah kita merasa diawasi saat mata kita tergoda melihat hal yang diharamkan?

 

Allah SWT mengingatkan:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16)


Jika puasa hanya menahan lapar namun tidak menanamkan rasa "malu" kepada Allah saat sendirian, maka puasa itu kehilangan ruhnya. Inilah yang disinggung Nabi SAW dalam sabdanya:

 "Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ahmad)


Kisah Ma'iz dan Kejujuran Spontan

Contoh paling ekstrem dari perasaan "diawasi Allah" adalah kisah Ma'iz bin Malik di masa Nabi. Ia melakukan dosa besar yang tidak ada seorang pun tahu. Ia bisa saja menyembunyikannya selamanya. Namun, rasa Ihsan-nya memberontak. Ia merasa bumi menjadi sempit karena ia tahu Allah melihat dosanya.


Ma'iz datang kepada Nabi dan meminta dihukum agar ia bersih di hadapan Allah. Mengapa ia menyerahkan nyawanya sendiri? Karena ia lebih takut pada "pengawasan Allah" di akhirat daripada hukuman manusia di dunia. Itulah buah dari Ihsan: Kejujuran yang melampaui kepentingan diri sendiri.


Memperpanjang "Napas" Ihsan Pasca-Ramadan

Tujuan akhir dari Ramadan adalah menjadi orang yang bertakwa (La'allakum tattaqun). Takwa dan Ihsan adalah dua sisi dari koin yang sama. Seseorang yang bertakwa adalah mereka yang membawa perasaan "diawasi" ini ke pasar, ke kantor, ke panggung politik, dan ke dalam rumah tangga.


Bayangkan jika setiap pegawai merasa diawasi Allah, maka tidak akan ada korupsi. Jika setiap pedagang merasa diawasi Allah, tidak akan ada timbangan yang dikurangi. Jika setiap suami/istri merasa diawasi Allah, tidak akan ada pengkhianatan dalam diam.


 "Janganlah engkau menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. Al-Hashr: 19)


Merasa diawasi Allah justru memberikan kemerdekaan yang hakiki. Kita tidak lagi diperbudak oleh pandangan manusia. Kita tidak lagi stres mengejar pengakuan orang lain. Cukuplah Allah sebagai saksi atas kebaikan-kebaikan kecil kita yang tersembunyi. Wallahu a'lam bish-shawab.


Penulis : Fadhel Aja ( Aktivis Pelita PaBar )