oleh : Fadhel Aja (Aktivis Pelita PaBar)
Di dalam dunia perbankan, sebuah istilah "cek kosong" sering kali dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya jika tidak memiliki saldo. Namun, dalam _"Bank Langit"_ milik Allah SWT, cek kosong adalah anugerah tertinggi yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan. Cek ini bukanlah cek tanpa isi, melainkan cek yang nilainya diserahkan sepenuhnya kepada keinginan sang pemegang, karena jumlahnya yang tak terbatas. Inilah metafora yang paling mendekati untuk menggambarkan rahasia besar di balik Surat Az-Zumar ayat 10.
Ramadan, yang kita kenal sebagai madrasah atau sekolah spiritual, sebenarnya adalah musim "pembagian dividen" besar-besaran bagi mereka yang menanam saham kesabaran. Di tengah lapar yang menyayat dan haus yang mengeringkan kerongkongan, Allah sedang menyiapkan balasan yang tidak bisa dihitung oleh kalkulator manusia.
Mengapa Harus Sabar?
Allah SWT berfirman dalam penggalan akhir Surat Az-Zumar ayat 10:
اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"...Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas (tanpa hitungan)."
Kalimat bi ghairi hisab (tanpa hitungan/tanpa batas) dalam ayat ini memicu decak kagum para ahli tafsir. Dalam matematika pahala Islam, biasanya setiap amal kebaikan memiliki "kurs" atau nilai tukar yang jelas. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, setiap amal anak Adam dilipatgandakan dari 10 hingga 700 kali lipat. Namun, ketika sampai pada bab puasa dan kesabaran, Allah menghentikan hitungan itu.
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa sabar adalah pengecualian dari segala aturan perhitungan pahala. Allah seolah-olah berkata, "Untuk urusan sabar, biarlah Aku sendiri yang memberi upahnya tanpa perlu kalian hitung jumlahnya." Inilah yang kita sebut sebagai 'Cek Kosong' dari Ar-Rahman.
Tiga Dimensi Kesabaran: Modal Investasi Akhirat
Untuk mencairkan 'cek kosong' ini, seorang mukmin harus memahami bahwa sabar bukan sekadar sikap diam saat ditindas. Sabar adalah daya tahan aktif (resilience) yang mencakup tiga dimensi:
1. Sabar dalam Ketaatan (As-Shabru 'ala At-Tha'ah): Melawan rasa malas untuk tetap berdiri salat malam, menahan kantuk untuk membaca Al-Qur'an, dan tetap jujur dalam perniagaan saat kecurangan nampak lebih menguntungkan. Ini adalah sabar yang memerlukan stamina spiritual.
2. Sabar dari Maksiat (As-Shabru 'an Al-Ma'shiyah): Menahan jempol agar tidak mengetik komentar jahat, menahan mata dari tontonan yang merusak, dan menahan hati dari penyakit iri dengki. Di era digital, ini adalah jenis kesabaran yang paling mahal harganya.
3. Sabar atas Takdir yang Pahit (As-Shabru 'ala Al-Aqdar Al-Mu'limah): Tetap berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah saat kehilangan pekerjaan, kehilangan orang tercinta, atau saat doa-doa belum kunjung terkabul.
Belajar dari Sang Maestro: Kesabaran Rasulullah SAW
Jika kita ingin melihat bagaimana 'cek kosong' ini bekerja, lihatlah kehidupan Rasulullah SAW. Beliau adalah prototipe kesabaran sempurna. Salah satu momen paling menggetarkan adalah peristiwa di Tha'if.
Bayangkan, Rasulullah berjalan kaki puluhan kilometer dengan harapan penduduk Tha'if menerima dakwah Islam setelah kematian Khadijah dan Abu Thalib. Namun, apa yang beliau terima? Beliau diusir, dihina, dan dilempari batu oleh anak-anak kecil hingga sandal beliau basah oleh darah yang mengalir dari kakinya.
Saat malaikat penjaga gunung menawarkan untuk meruntuhkan Gunung Uhud ke atas penduduk Tha'if sebagai balasan, Rasulullah SAW justru menunjukkan kesabaran yang melampaui logika:
"Jangan, aku berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyem
bah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun".
Rasulullah tidak memilih membalas, beliau memilih sabar. Inilah mengapa beliau diberikan kedudukan Maqamam Mahmudah (tempat yang terpuji) yang tidak diberikan kepada siapa pun. Beliau tahu, sabar adalah kunci pembuka pintu rahmat yang tak terbatas.
Kesabaran Sahabat: Kisah Khabbab bin Al-Arat
Selain Rasulullah, para sahabat adalah saksi hidup bagaimana kesabaran diubah menjadi kemuliaan. Mari kita kenang Khabbab bin Al-Arat. Beliau adalah seorang pandai besi yang masuk Islam sejak awal.
Majikannya yang kafir, Ummu Anmar, menyiksanya dengan cara yang mengerikan. Khabbab diseret ke atas bara api yang menyala hingga lemak di punggungnya meleleh dan memadamkan api tersebut. Rasa sakitnya tak terbayangkan. Namun, Khabbab tidak pernah melepaskan imannya.
Suatu hari Khabbab mengadu kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami?" Rasulullah kemudian menceritakan tentang umat-umat terdahulu yang digergaji kepalanya hingga terbelah dua namun tidak menggoyahkan imannya.
Pesan Rasulullah jelas: Sabar adalah ujian waktu. Dan benar saja, Khabbab yang dulunya budak yang disiksa, di akhir hayatnya melihat Islam menaklukkan dunia. Ia mendapatkan kemuliaan di dunia, dan _'cek kosong'_ pahala menantinya di akhirat.
Menjaga 'Cek Kosong' di Era Fitnah
Bagaimana kita menerapkan QS. Az-Zumar: 10 ini dalam kehidupan sehari-hari di abad ke-21?
1. Menghadapi "Provokasi" Digital
Saat kita melihat berita hoaks atau komentar yang menyerang kehormatan kita di media sosial, ego kita akan berteriak: "Balas! Tunjukkan bahwa kamu benar!" Namun, orang yang mengejar 'cek kosong' dari Allah akan memilih diam atau membalas dengan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di pihak yang benar, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di tengah surga." (HR. Tirmidzi).
2. Sabar dalam Mencari Nafkah yang Halal
Di tengah himpitan ekonomi, godaan untuk melakukan korupsi, pungli, atau penipuan sangat besar. Sabar di sini berarti tetap memilih jalan yang sulit namun berkah, daripada jalan pintas namun mengundang murka Allah SWT. Yakinlah bahwa kesabaran menahan diri dari harta haram akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang bi ghairi hisab.
3. Sabar dalam Mendidik Keluarga
Menghadapi pasangan yang keras kepala atau anak-anak yang sulit diatur memerlukan cadangan sabar yang luar biasa. Ingatlah bahwa setiap tarikan napas Anda saat menahan marah demi kebaikan keluarga adalah tabungan pahala tanpa batas.
Mengapa Allah Menyebutnya "Tanpa Batas"?
Sifat "Tanpa Batas" ini diberikan karena sabar adalah satu-satunya ibadah yang tidak ada batas puncaknya. Shalat ada jumlah rakaatnya, zakat ada persentasenya, haji ada batas waktunya. Namun, sabar? Sabar tidak memiliki titik henti hingga nyawa berpisah dari raga.
Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata:
"Kedudukan sabar dalam iman itu seperti kedudukan kepala bagi tubuh. Tidak ada iman bagi mereka yang tidak memiliki kesabaran."
Tanpa kepala, tubuh tidak berfungsi. Tanpa sabar, semua amal ibadah kita akan mudah hancur diterjang riya, amarah, atau keputusasaan.
Mencairkan 'Cek Kosong' Anda
Hadirin pembaca yang dimuliakan Allah SWT,
Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk mempertebal saldo 'cek kosong' kita. Setiap kali Anda merasa lapar, ingatlah itu adalah sabar. Setiap kali Anda ingin marah tapi memilih tersenyum, ingatlah itu adalah sabar. Setiap kali Anda lelah dalam sujud namun tetap bertahan, ingatlah itu adalah sabar.
Jangan biarkan investasi besar ini rusak karena satu menit amarah atau satu kalimat keluhan. Jagalah kesabaran itu hingga Allah sendiri yang menyempurnakan pahalanya untuk Anda.
Bayangkan saat di Padang Mahsyar nanti, ketika manusia lain sibuk dengan timbangan amal mereka, orang-orang yang bersabar dipanggil oleh Allah untuk masuk ke surga tanpa melalui proses hitungan yang rumit. Mengapa? Karena di dunia, mereka telah rida dengan ketetapan Allah yang tidak berhitung, maka di akhirat Allah membalas mereka dengan karunia yang tidak terhitung pula.
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang disebutkan dalam QS. Az-Zumar: 10 tersebut. Golongan yang pulang ke hadirat-Nya dengan membawa 'cek kosong' yang telah diisi penuh dengan ridha dan surga-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.

